Minggu, 01 Februari 2015

KABEL UNTUK SOUND SYSTEM

Beberapa tahun yang lalu saya di minta seorang teman untuk meninjau sebuah gereja di Jakarta. Pada saat teman saya tanyakan speaker dan peralatan apa yang mereka gunakan, ia hanya menyebutkan sebuah merek yang sudah sanat umum digunakan oleh gereja. Pikir saya, “….. yah itu lagi, itu lagi, kapan saya mendapat tantangan baru”. Sampai pada harinya saya meninjau gereja tersebut, ternyata malah saya yang terkejut, karena mereka ternyata mengunakan speaker EAW MK series untuk full rangenya & EAW FR 250z untuk subnya. Mixernya menggunakan Allen & Heath GL 2200, loudspeaker managementnya menggunakan XTA 622, dan power-powernya menggunakan Crest Audio Pro series.
Kemudian saya bertanya kepada mereka, “….mana mungkin suara speaker ini tidak enak, apa yang harus saya perbaiki? Ini speaker yang harganya cukup mahal di dunia?”. Mereka menjawab, “….coba saja Bapak dengar sendiri, kami juga tidak tahu yang tidak enak apanya, hanya saja kami merasa ada sesuatu yang tidak enak”. Setelah saya menyalakan CD dan mengeluarkan suaranya, ternyata, he, he, he, ….. baru saya percaya, memang ternyata suara speaker tersebut tidak ubahnya speaker buatan Cina.

Ada apa yang salah? Mereknya? Tentu saja tidak, mereka menggunakan merek-merek terkenal dan berharga mahal untuk instalasi tersebut. Untuk mencari sumber permasalahan suatu instalasi saya tidak pernah lupa untuk menengok ke belakang rak. Belakang raknya kebetulan sangat rapih, tetapi kabel yang mereka gunakan ternyata tidak sesuai dengan suara yang seharusnya diharapkan dihasilkan oleh speaker. Mengapa demikian? Banyak orang yang belum paham betul mengenai kabel, bagaimana anatominya, dan bagaimana penggunaannya di lapangan, atau mungkin juga seringkali orang menganggap sepele permasalahan kabel.

Mengapa Kabel Merupakan Unsur Penting Untuk Sound System?
Banyak orang akan berkomentar “Ah kabel …. apa gunanya sih? Pake aja yang murah toh tetap keluar suara, kalau alat kita bagus, buat apa harus beli kabel yang mahal supaya suaranya bagus”. Untuk orang yang berpendapat demikian akan saya beri catatan sedikit. Kabel berperan penting dalam menyalurkan sinyal audio dari alat ke alat, tak ubahnya seperti pembuluh darah di dalam tubuh manusia.

Ada orang yang tampak sehat dari luar, penampilannya pun menarik, tetapi ternyata di dalam tubuhnya seluruh pembuluh darahnya tersumbat. Saya jamin tidak berapa lama lagi orang ini akan mengalami serangan jantung, apa yang tidak seimbang di dunia ini akan menghasilkan yang tidak benar pula. Demikian pula dengan peralatan sound system berharga mahal tidak akan bersuara sebgaimana seharusnya jika tidak menggunakan kabel yang sesuai dengan ukuran, jenis, bahkan hingga bagaimana cara orang menyambungkannya (menyoldernya).

Jenis-Jenis KabelKabel untuk sound system tidak sesederhana yang kita pikirkan, banyak jenis, ragam, dan penggunaannya. Untuk menyambungkan microphone saja, terdapat beberapa jenis kabel, sangat jarang orang yang mengetahui dan mempelajarinya. Untuk itu marilah kita pelajari bersama-sama jenis kabel-kabel tersebut sebagai berikut ini :

1. Kabel Microphone
Kabel untuk microphone terdiri dari 2 jenis, demikian pula dengan kabel balance, yaitu kabel microphone standard dan kabel microphone quad. Kabel microphone standard terdiri dari 3 kabel yaitu shield (ground / pelindung), kabel untuk kutub positif, dan kabel untuk kutub negatif. Sedangkan kabel microphone quad di dalamnya berisi 5 kabel yaitu sheild, 2 kabel untuk kutub positif, dan 2 kabel kutub negatif.

Kabel standard microphone dari Canare seperti L2-T2S terdiri dari 2 buah kabel dalam yang berwarna biru dan putih. Isi dari kedua kabel tersebut masing-masing terdiri dari 60 buah kawat tipis. Kabel ini dibungkus kembali dengan rajutan kawat yang cukup rapat, dapat menolak noise dari luar, dan memiliki fleksibilitas yang baik. Lapisan plastik pembungkus luar kabel terbuat dari PVC (Polyvinly Chlorida), demikian pula untuk pembungkus kedua kabel bagian dalamnya.

Untuk mereka yang baru belajar menyolder kabel, kabel ini adalah kabel yang cukup baik dan tahan panas solder. Sehingga orang yang baru belajar menyolder tidak perlu khawatir lapisan kabel tersebut meleleh karena terlalu lama menempelkan solderan. Tetapi jika terlalu lama tetap akan meleleh juga. Selain itu kabel balance atau kabel microphone diberi tambahan benang-benang katun sebagai filler / pengisi dan penguat kabel.



Kabel microphone Canare L2-T2S



Klotz MY206

Kabel microphone quad dibuat untuk digunakan pada lingkungan yang cukup tinggi noise pada lingkungan tempat kabel ini digunakan. Harga kabel ini lebih mahal dari kabel microphone standard, tetapi memiliki daya tolak noise yang lebih besar pada saat kabel ditarik cukup panjang. Noise timbul sebagai akibat induksi di antara kabel positif dan kabel negatif itu sendiri, oleh karena bentuknya yang quad induksi tersebut dapat hilang dengan sendirinya. Ditambah lagi diameter kabel positif dan kabel negatif manjadi lebih besar. Kabel ini dapat kita manfaatkan untuk tarikan hingga mencapai panjang 100 m.



Kabel microphone quad Canare L4-E6S



Kabel microphone quad Klotz SQ422

Untuk kabel microphone dalam bentuk kabel snake, bentuknya mirip dengan beberapa kabel microphone yang kita gabungkan dan diberi bungkus kembali. Kabel snake ada yang ditujukan untuk penggunaan mobile dan ada juga yang ditujukan untuk instalasi secara permananen. Perbedaan yang mendasar pada kedua kabel ini dapat kita baca pada bagian berikutnya.



Kabel snake untuk di lapangan

2. Kabel Balance Untuk Instalasi
Kabel balance untuk instalasi tidak berbeda jauh dari kabel microphone dalam bentuk, ukuran, dan isi bagian dalamnya. Yang membedakannya hanyalah bahan pembuat bunggkus luar kabel yang lebih keras dan pelindungnya (sheilding) berupa aluminium foil. Pada kabel ini biasanya kabel untuk ground dibuat tersendiri dalam bentuk kawat yang dililit. Mengapa digunakan aluminum foil? Karena kabel ini ditujukan untuk mampu menolak pengaruh gelombang magnetik dan gelombang radio hingga mencapai 100%. Sedangkan pada kabel microphone biasa hanya dijamin mencapai 94% saja.

Selain itu agar kabel-kabel ini kuat menahan gaya tarik pada saat instalasi sedang berlangsung. Untuk dapat menahan gaya tarik yang kuat ini maka ditambahkan pula serat-serat pengguat seperti pada Canare L4-E6AT dan Canare L4-E5AT. Serat-serat penguat tersebut terbuat dari kevlar yang sanggup menahan gaya tarik yang cukup besar.



Kabel instalasi quad dengan penguat kevlar di tengahnya, Canare L4-E6AT

Kabel snake untuk instalasi mirip dengan kabel balance instasai yang kita gabungkan. Perbedaannya dengan kabel snake untuk mobile hanya pada sheild-nya yang menggunakan aluminium foil, sedangkan pada kabel snake mobile menggunakan rajutan kawat



Snake cable untuk instalasi



Kabel untuk instalasi antar rak.

3. Kabel Unbalance
Kabel ini mungkin tidak aneh untuk orang pada umumnya, oleh karena sebagian besar kabel hi-fi, kabel untuk radio, dan kabel untuk video berbentuk seperti ini, yang kita sebut sebagai kabel coax. Hanya saja untuk sound kabel jenis ini bagian tengahnya berupa serabut, bukannya solid seperti kabel untuk radio maupun video pada umumya.

Hanya saja pada pembungkus bagian tengahnya masih terdapat lapisan pembungkus bagian luar, pembungkus ini yang terbuat dari bahan karbon sebagai bahan pelindung yang bersifat konduktif. Sehingga pada saat kita menyoldernya kita harus berhati-hati agar turut pula mengupas lapisan tipis ini.



Kabel unbalance untuk instrumen

Untuk apa kita harus membuangnya? Karena jika pelindung tipis berwarna hitam ini menyambung dengan tembaga pada bagian tengahnya maka kabel yang kita solder akan mengalami gejala-gejala seperti konsleting.

Kabel ini adalah kabel OFC dengan diameter 18 AWG (American Wire Gauge) khusus untuk menyambungkan alat-alat unbalance. Kabel ini memiliki kapasitansi dan tahanan yang rendah sehingga mampu meloloskan sinyal hingga 50 kHz. Sehingga suara pick up gitar yang jernih dan jelas walaupun kita menggunakan kabel unbalance ini dalam jarak yang cukup panjang. Kombinasi antara sheild tembaga dan lapisan karbon dapat melindunggi kabel dari suara-suara noise microphonic (noise yang sangat kecil) yang tidak kita inginkan. Noise ini umumnya datang dari cube-cube yang volumenya kita set besar. Anehnya kabel ini direkomendasikan juga untuk kabel speaker penghubung antara head ampli dan kabinetnya.

4. Kabel Balance Untuk Antar Alat atau Wiring di Dalam Rak
Kabel ini hanya merupakan bentuk penyederhanaan dari kabel microphone standard. Kabel ini hanya ditujukan untuk tarikan jarak dekat, dan tanpa beban tarikan yang cukup berat. Biasaya kabel ini memiliki harga yang cukup murah, sebagai contoh Belden 8760, Belden 8761, dan Canare L2-B2AT. Isi kabel juga tanpa dilengkapi dengan filler atau benang pengisi dan penguat kabel.

5. Kabel Speaker
Beberapa orang menganggap kabel speaker amat tidak penting, diganti dengan kabel listrik pasti juga menyala. Memang benar demikian, hanya saja pendapat ini tidaklah semuanya benar.

Kabel speaker justru memiliki tahanan yang cukup besar, sehingga bahan pembuatnya harus benar-benar tembaga murni. Memang benar arus yang mengalir pada kabel speaker adalah arus AC atau sama dengan listrik pada colokan listrik kita. Hanya saja arus yang menalir di dalam kabel ini tidak konstan, dan memiliki dinamika. Berbeda dengan speaker Toa atau ceilling di supermarket yang menggunakan arus konstan sehingga bisa dikirim jauh tanpa distorsi.

Dari tabel di bawah ini kita bisa baca berapa banyak pengurangan sinyal jika kita menarik kabel speaker Canare sepanjang yang kita inginkan. Kita juga tidak boleh melupakan apa yang akan terjadi kalau kita menarik kabel speaker dengan jarak yang panjang.

Untuk memudahkan penghitungannya Canare telah membuatkan tabel yang kurang lebih dapat kita gunakan sebagai patokan pada saat kita menarik kabel speaker. Tabel tersebut sebagai berikut :

Model Tahanan Sepasang Konduktor (ohm/100m) & Penampang melintang dalam mm Tahanan Konduktor (ohm/100m) untuk arus kembali Panjang kabel / damping faktor

4S6 1,87 / 1,0 mm² (AWG 17) 3,7, untuk DF 20 9,5 m, untuk DF 50 3,0 m
4S8 0,75 / 2,5 mm² (AWG 14) 1,5, untuk DF 20 23,3 m, dan untuk DF 50 7,3 m
4S11 0,34 / 1,0 mm² (AWG 11) 0,87, untuk DF 20 40,2 m, dan untuk DF 50 12,6 m

Semua nilai dihitung berdasarkan asumsi output power amplifier pada 0,05 ohm
DF 20 adalah damping factor hanya diperuntukan untuk penggunaan pidato saja, sedangkan DF 50 adalah nilai yang dibutuhkan untuk musik dengan band lengkap. Jadi damping faktor akan ditentukan oleh bentuk dan panjang kabel speaker. Untuk lebih jelasnya akan kita bahas pada bagian kedua artikel ini.

Bahan-Bahan Pembuat Kabel
Bahan-bahan penyusun kabel merupakan komponen penting yang membuat suara yang dihasilkan kabel berbeda-beda. Bahan penyusun kabel yang utama adalah tembaga, akan tetapi pada umumnya tembaga yang tersedia tidak murni. Memang kesulitan lainnya akan timbul apabila tembaga tersebut dalam bentuk murni, oleh karena akan mudah teroksidasi jika mendapat kontak dengan udara.

Untuk menghindarinya beberapa pabrik pembuat kabel membuat kabel yang diberi label OFC, atau Oxygen Free Cable. Apa maksud dari kabel ini, kabel ini memiliki pembungkus yang sangat baik sehingga oksigen tidak dapat masuk hingga ke bagian tengah kabel. Pernah melihat kabel speaker yang sudah berumur satu tahun dan berwarna hitam agak kehijauan, itu tandanya oksigen oksigen dapat masuk ke bagian tengah-tenggah kabel.

Pabrik lainnya untuk menghindari oksidasi, melapis tembaga dengan seng. Hanya saja suara yang dihasilkan sangat tajam dan suara tone rendahnya kurang, dan anehnya kabel ini memperkuat sinyal secara keseluruhan. Sehingga pada saat kita membaca meter yang ada di mixer sinyal naik hampir 40% lebih tinggi dibandingkan dengan kabel tembaga murni. Mungkin ini hanya pengalaman saya saja di lapangan, saya anjurkan anda mencobanya sendiri. Contoh kabel-kabel microphone yang berlapis seng adalah Klotz quad SQ422, Belden 8760, belden 8761, dll. Sedangkan untuk kabel speaker adalah Belden 8470. Hindari kabel-kabel ini untuk speaker-speaker yang berlebihan suara tingginya, demikian pula untuk stasiun radio FM, kerena mereka membutuhkan suara yang flat.

 http://soundsystemprofesional.blogspot.com/2010/03/anatomi-kabel-untuk-sound-system.html

PERANAN POWER AMPLIFER DI SOUND SYSTEM

mungkin ada rekan
rekan yang ingin
membangun sound
system,dan perangkat
ingin merakit sendiri
untuk mengirit dana atau dana mepet.. yang perlu di perhatikan
kan adalah power..
sound system memang
butuh power lebih dari 2
buah,di sound system
profesional bisa sampai 40 buah power sekali
pentas..
oke..
yang harus di
perhatikan untuk
merakit power untuk sound adalah,kit modul
dan transistor final..
kenapa begitu.? banyak kit modul power
dan semua tidak sama
skema nya,dan setiap
kit modul karakter
suara juga berbeda,,.
jadi di usahakan semua power harus sama kit
modul nya.. transistor final..
kok transistor final juga
masuk perhitungan.? rekan" sudah kenal
sama jenis" transistor
final dan karakter suara
dari transistor
tersebut.. sebagai contoh..
power 1 transistor
TOSHIBA
power 2 transistor
SANKEN
power 3 transistor MEXICO nah,dari semua power
tersebut karakter
suara tidak akan sama... jadi di usakan untuk
menyamakan semua
power yang ingin di
rakit,
kenapa begitu.? di saat pentas dan
semua power hidup dan
mendriver speker,suara
yang di hasil kan akan
banyak canceling dan
tidak karuan... sebagai contoh..
sound profesional untuk
FOH mereka mengunakan
1 merk dan tipe yang
sama,paling beda di
watts power tersebut.. karna untuk
menghindari kejadian
seperti itu..

 http://ramadany.mywapblog.com/peranan-power-amplifer-di-sound-system-r.xhtml

Pengertian Audio Mixer


mixer berfungsi sebagai pencampur suara, sebuah mixing console, apakah itu analog maupun digital, atau juga disebut soundboard / mixing desk (papan suara) adalah sebuah peralatan elektronik yang berfungsi memadukan (lebih populer dengan istilah "mixing"), pengaturan jalur (routing) dan mengubah level, serta harmonisasi dinamis dari sinyal audio. Sinyal - sinyal yang telah diubah dan diatur kemudian dikuatkan oleh penguat akhir atau power amplifier.
Audio mixer secara luas digunakan dalam berbagai keperluan, termasuk studio rekaman, sistem panggilan publik (public address), sistem penguatan bunyi, dunia penyiaran baik radio maupun televisi, dan juga pasca produksi pembuatan film. Suatu contoh yang penerapan sederhana, dalam suatu pertunjukan musik misalnya, sangatlah tidak efisien jika kita menggunakan masing masing amplifier untuk menguatkan setiap bagian baik suara vokal penyanyi dan alat alat musik yang dimainkan oleh band pengiringnya.
Disini Audio mixer akan menjadi bagian penting sebagai titik pengumpul dari masing masing mikropon yang terpasang, mengatur besarnya level suara sehingga keseimbangan level bunyi baik dari vokal maupun musik akan dapat dicapai sebelum diperkuat oleh amplifier.
Mixer adalah salah satu perangkat paling populer setelah microphone. Kita lebih mengenalnya dengan sebutan mixer, mungkin kebanyakan kita menyebutnya demikian karena fungsinya yang memang mencampur segala suara yang masuk, kemudian men-seimbangkannya, menjadikannya salura dua kanal (L-R kalau stereo, dan satu kalau mono), kemudian mengirimkannya ke cross-over aktif baru diumpan ke power amplifier dan terakhir ke speaker.
Mixing console menerima berbagai sumber suara. Bisa dari microphone, alat musik, CD player, tape deck, atau DAT. Dari sini dengan mudah dapat dilakukan pengaturan level masukan dan keluaran mulai dari yang sangat lembut sampai keras. Kalau kita misalkan sebuah system audio iu umpamakan sebagai tubuh manusia, snake cable bisa kita umpamakan sebagai system syaraf, dan mixing console sebagai jantungnya.
Bila terjadi suatu masalah dengannya, berarti system tersebut sedang dalam masalah besar. Salah satu syarat terpenting dalam mixing console yang baik adalah mempunyai input gain yang baik, pengaturan eq yang juga baik. Maka dengan demikian akan dapat dilakukan pengaturan yang lebih sempurna dan optimal terhadap setiap input microphone, atau apapun yang menjadi sumber suaranya. Ada banyak tipikal pengaturan yang terdapat dalam sebuah mixing console.

 http://id.wikipedia.org/wiki/Audio_Mixer

Pengertian Microphone (Mikrofon) dan Cara Kerjanya




Pengertian Microphone (Mikrofon) dan cara kerjanya
Pengertian Microphone (Mikrofon) dan Cara Kerjanya – Microphone atau dalam dalam bahasa Indonesia disebut dengan Mikrofon adalah suatu alat atau komponen Elektronika yang dapat mengubah atau mengkonversikan energi akustik (gelombang suara) ke energi listrik (Sinyal Audio). Microphone (Mikrofon) merupakan keluarga Transduser yang berfungsi sebagai komponen atau alat pengubah  satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Setiap jenis Mikrofon memiliki cara yang berbeda dalam mengubah (konversi) bentuk energinya, tetapi mereka semua memiliki persamaan yaitu semua jenis Mikrofon memiliki suatu bagian utama yang disebut dengan Diafragma (Diaphragm).

Simbol Mikrofon dalam Rangkaian Elektronika

Simbol Microphone (Mikrofon)

Cara Kerja Microphone (Mikrofon)

Pengertian dan Cara Kerja Microphone
Microphone atau Mikrofon merupakan komponen penting dalam perangkat Elektronik seperti alat bantu pendengaran, perekam suara, penyiaran Radio maupun alat komunikasi lainnya seperti Handphone, Telepon, Interkom, Walkie Talkie serta Home Entertainment seperti Karaoke. Pada dasarnya sinyal listrik yang dihasilkan Microphone sangatlah rendah, oleh karena itu diperlukan penguat sinyal yang biasanya disebut dengan Amplifier. Untuk mengenal lebih jauh dengan Microphone yang hampir setiap hari kita gunakan ini. Berikut ini adalah penjelasan cara kerja microphone (mikrofon) secara singkat :
  1. Saat kita berbicara, suara kita akan membentuk gelombang suara dan menuju ke Microphone.
  2. Dalam Microphone, Gelombang suara tersebut akan menabrak diafragma (diaphragm) yang terdiri dari membran plastik yang sangat tipis. Diafragma akan bergetar sesuai dengan gelombang suara yang diterimanya.
  3. Sebuah Coil atau kumpuran kawat (Voice Coil) yang terdapat di bagian belakang diafragma akan ikut bergetar sesuai dengan getaran diafragma.
  4. Sebuah Magnet kecil yang permanen (tetap) yang dikelilingi oleh Coil atau Kumparan tersebut akan menciptakan medan magnet  seiring dengan gerakan Coil.
  5. Pergerakan Voice Coil di Medan Magnet ini akan menimbulkan sinyal listrik.
  6. Sinyal Listrik yang dihasilkan tersebut kemudian mengalir ke Amplifier (Penguat) atau alat perekam suara.

 

 

 

 

 

 

 

Jenis-jenis Microphone (Mikrofon)

Berdasarkan Teknologi atau Teknik Konversinya dari Energi Akustik (Suara) menjadi Energi Listrik, Mikrofon dapat dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Dynamic Microphone, yaitu Microphone yang bekerja berdasarkan prinsip Induksi Elektromagnetik.
  2. Condenser Microphone, yaitu Microphone yang diafragmanya terbuat dari bahan logam dan digantungkan pada pelat logam statis dengan jarak yang sangat dekat sehingga keduanya terisolasi menyerupai sebuah Kapasitor. Condenser Microphone disebut juga Capacitor Microphone.
  3. Electret  Microphone, yaitu Microphone jenis Condenser yang memiliki muatan listrik sendiri sehingga tidak memerlukan pencatu daya dari luar.
  4. Ribbon Microphone, yaitu Microphone yang menggunakan pita tipis dan sensitif yang digantungkan pada medan magnet.
  5. Crystal Microphone atau Piezoelektris Microphone, yaitu Microphone yang terbuat dari Kristal Aktif yang dapat menimbulkan tegangan sendiri ketika menangkap getaran sehingga tidak memerlukan pencatu daya dari luar.



Pengertian Microphone (Mikrofon) dan cara kerjanya

http://teknikelektronika.com/pengertian-microphone-mikropon-cara-kerja-mikrofon/
Microphone kondensor adalah mikropon yang dalam kerjanya menggunakan kondensator. Prinsip kerja : Getaran suara yang masuk menggetarkan membran. Getaran membran ini mengakibatkan gerakan maju dan mundur lempengan penghantar pada kondensator. Dengan perubahan ini, nilai kondensator pun berubah seiring dengan perubahan getaran. Perubahan kapasitansi ini menyebabkan terjadinya getaran listrik. Selanjutnya getaran listrik ini diperkuat oleh Preamp. Pada mikropon jenis ini memerlukan tegangan phantom dari preamp sebesar 48 volt, tetapi untuk aplikasi sehari hari biasanya mikropon kondensor cukup menggunakan bateray 1,5 volt.

Read more at: http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/microphone/
Copyright © Elektronika Dasar
Microphone dinamis adalah mikropon yang menggunakan prinsip kerja induksi (mikropon menjadi sumber listrik induksi). Prinsip kerja : Getaran suara yang masuk menggerakkan membran; getaran membran menggerakkan moving coil; getaran moving coil yang berada dalam membrane magnet akan menyebabkan timbulnya aliran listrik. Aliran listrik yang berupa gelombang listrik seirama dengan getaran suara yang diterima.

Read more at: http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/microphone/
Copyright © Elektronika Dasar
Microphone dinamis adalah mikropon yang menggunakan prinsip kerja induksi (mikropon menjadi sumber listrik induksi). Prinsip kerja : Getaran suara yang masuk menggerakkan membran; getaran membran menggerakkan moving coil; getaran moving coil yang berada dalam membrane magnet akan menyebabkan timbulnya aliran listrik. Aliran listrik yang berupa gelombang listrik seirama dengan getaran suara yang diterima. Microphone Carbon (Cardiode)

Read more at: http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/microphone/
Copyright © Elektronika Dasar
Microphone dinamis adalah mikropon yang menggunakan prinsip kerja induksi (mikropon menjadi sumber listrik induksi). Prinsip kerja : Getaran suara yang masuk menggerakkan membran; getaran membran menggerakkan moving coil; getaran moving coil yang berada dalam membrane magnet akan menyebabkan timbulnya aliran listrik. Aliran listrik yang berupa gelombang listrik seirama dengan getaran suara yang diterima. Microphone Carbon (Cardiode)

Read more at: http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/microphone/
Copyright © Elektronika Dasar

Unit-Unit Sound System

Mixer(Audio) adalah sebuah peralatan untuk mencampur 2 (dua) atau lebih Channel Audio Input menjadi satu kesatuan sistim penyuaraan. Dalam penggunaan yang professional, orang tehnik menyebutnya Profesional Audio Desk Mixing Console. Dalam sebuah Mixer Audio terdapat urutan kolom yang berderet dari atas sampai bawah yang disebut Channel. Yang paling atas terdapat Jack Input berupa XLR Female dan TRS (Phone Jack). XLR berfungsi untuk menancapkan Jack Microphone / Audio Input *. (Ada tanda bintang * nanti kita bahas di bawah ini). Dilanjutkan pada urutan kedua adalah Gain Sensitive, Treble (Level), Midle( Level), Midle Frequency, Low Freq., Low(Level), AUX 1, AUX 2, Panpot (Balance Center) dan Volume (Level) yang berbentuk Potensiometer Geser. Rata-rata pabrik membuat Mixer Audio ini terdapat minimal 4 Channel Mic Input (XLR Jack) namun ada juga yang 12CH, 16CH, 24CH, 32CH, 48CH, 60 Channel. kadang dilengkapi juga dengan 1 atau 2 Channel Stereo untuk input device yang berasal dari VCD, Laptop, Keyboard dan lainnya. Fasilitas Switch/ Saklar Per Channel terdapat  Tombol LPF, Tombol Mute (ON/OFF), saklar Switch Auidio to SUB/ Main Output. Sound Operator yang sudah berpengalaman kadang menggunakan Audio Mixer Digital, fungsinya sama namun pengaturan menggunakan Sistem MENU Displaying, bukan dengan cara manual yang harus memutar tombol secara nyata(Real). Mixer yang kita bahas kali ini adalah mengenal dan mengatur sistim kerja Mixer Audio Konvensional yang umum digunakan oleh khalayak Sound-man. Kondisi susunan tombol masing-masing pabrik kadang berbeda-beda.  Step by step akan coba kita bahas di bawah ini.

1. Input Channel Jack

Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio
Dalam input Channel ini terdapat Jack XLR Female dan Jack Phone TRS. Fungsi dan koneksinya sama yaitu untuk menghubungkan input masukan dari Microphone. Kadang dalam Mixer Profesional terdapat Jack I/O Insert **  nanti kita bahas. Dalam bintang yang saya cantumkan di atas bahwa kita juga bisa mengkoneksi input audio dalam Jack XLR/TRS channel input ini dengan fungsi audio Input dari VCD atau Keyboard, kecuali Wireless Microphone. Namun harus hati-hati dalam mengoperasikan input ini pada Channel Jack XLR karena Gain Input untuk masukan di CHANNEL MIC memiliki Range OP Amp yang hanya menangkap getaran sinyal Audio tanpa penguatan (di atas 0dB standar). Jadi untuk menancapkan Audio dari musik Keyboard di jalur Koneksi ini harus mengecilkan Gain Sensitive paling minimal atau paling tidak di angka 0 dB meter(lihat display). Untuk mengetahui tentang Jack ini coba buka yang satu ini.

2. LOW Cut Switch

Tombol Low Cut ini berupa saklar On/Off, berfungi untuk memangkas sinyal yang mengandung unsur nada rendah. Bila dalam box tertulis 100Hz ini berarti alat ini untuk memfilter lalu memotong sinyal nada di bawah frekuansi 100 Hz, atau ada juga yang 80Hz. Penggunaan tombol ini bisa kita fungsikan untuk mengurangi suara tekanan hembusan angin dari mulut pada penggunaan Microphone. Ada baiknya tidak menghidupkan saklar ini pada mode musik di channel yang kita colok.

Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio
Low cut 100Hz dibawah tombol Gain

3. Gain Sensitive (Gain Sens)

Gain Sensitive berfungsi untuk meyesuaikan kepekaan dan kekuatan input Source. Pada input yang belum atau tanpa penguatan, misalnya dari Microphone dan Spul Gitar posisi Gain Sensitive akan melaju ke arah kanan dalam satuan dBu. Gain Sens akan memberikan space penguatan yang cukup lebar pada tingkat depan Pre Amp Mixer. Pada pengaturan penguatan berupa Keyboard, VCD Player atau Komputer maka kita harus menset Gain sensitive harus dibawah 0 dBu utnuk menghindari Overload level pada penguatan akhir Mixer, sehingga suara yang kita dengar akan kacau (tidak HIFI) bila melebihi level di atas 0dB.
Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio

4. EQ High

Untuk mengatur kepekaan lebar frekuensi tinggi. Anda dapat mengatur nada suara yang anda inginkan pada  nada tinggi

5. EQ Midle

Untuk mengatur kepekaan lebar frekuensi menengah. Anda dapat mengatur nada suara menengah yang anda inginkan pada  nada midle.

6. Midle Freq

Untuk mengatur bandwidth frekuensi midle. Frekuensi khusus nada midle yang anda inginkan dapat diatur di tombol ini.

7. EQ Low

Untuk mengatur kepekaan lebar frekuensi rendah atau bass.

8. AUX 1

9. AUX 2

Untuk Aux 1 dan Aux 2 berfungsi untuk mengirimkan keluaran (output) pada device yang anda inginkan, misalkan anda dapat mengirimkan effek eksternal atau mengirim sistim penyuaraan lain misalkan Monitor speaker control.

10. FX Send (Pengiriman Penyuaran Efek)

Ini berguna untuk menampilkan tinggi dan rendahnya suara effek internal di Mixer ini. Anda dapat membesarkan atau mengecilkan kepekaan DRY atau WET pada sistim master Mixer.

11. PFL (Pre Fade Listening)

Tombol saklar ini berfungi untuk mengetahui dimana posisi Channel yang mendapat informasi bunyi yang aktif saat terdengar di Speker. Biasanya PFL akan terkoneksi ke Display LED atau Phone Output di Headphone.
Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio
PAN, SOLO PLF

12. Pan (Panpot)

Panpot sama dengan fungsi Balance, yaitu untuk menyetel ke arah mana suara akan anda tempatkan, apakah di posisi Left (kiri) atau Right (kanan).

13. Tombol SUB/MAIN

Tombol ini untuk menempatkan ke arah mana output suara akan didistribusikan, apakah ke main speaker atau sub speker. Bisa jadi Sub speker anda fungsikan sebagai Monitor speaker.

14. Channel Level Control (Volume Cannel)

Untuk membesarkan dan mengecilkan channel  level.

15. Main Master Level Control

Ini berfungi untuk membesarkan dan mengecilkan keseluruhan suara dari seluruh pencampuran channel yang aktif yang terhubung ke Main Output.
Pengenalan dan Fungsi Fasilitas yang Tersedia pada Mixer Audio

16. LED Displaying

Fungsi LED display adalah untuk menunjukkan posisi kekuatan sinyal suara baik pada posisi Master Main Output secara keseluruhan, bisa juga melihat intenitas audio channel secara natural saat kita menekan tombol PFL, displaying ini pada satuan dBu.Mohon diperhatikan saat lampu menyala pada warna kuningatau merah karena posisi ini kekuatan sinyal akan memberikan desakan input yang berlebihan pada Power Amplifier yang nantinya akan berakibat kurang baik pada Speaker anda. Bagi saya Led display sangat berperan dalam pensettingan sound system.

 http://tehnik-dasar-soundsystem.blogspot.com/2014/10/pengenalan-memfungsikan-mixer.html

SETTING EQUALIZER SAAT MIXING / MASTERING






Secara definisinya, mengatur equalizer adalah proses mengangkat (boosting/enhancing) atau menurunkan (cutting) gain dari frequency tertentu tanpa mempengaruhi frequency – frequency lainnya. Untuk dapat mengerti cara mengatur equalizer pada saat mixing maupun mastering, sebelumnya anda perlu memahami pengaruh atau efek dari beberapa range frequency bagi sebuah instrument ataupun lagu secara keseluruhan.
Range- range frequency tersebut dapat dijadikan sebagai acuan pengaturan equalizer pada proses mixing maupun mastering
Range frequency 40 Hz – 80 Hz : range frequency sub bass atau low bass
Range frekuensi terendah yang biasa ada dalam sebuah lagu adalah range frekuensi 40 – 80 hz dengan pengaturan equalizer yang dipusatkan di sekitar 50 hz . Range frekuensi ini dinamakan range frekuensi sub bass / low bass. Memang banyak suara yang memiliki frekuensi sekitar 20 – 40 hz, namun suara tersebut biasanya bukanlah suara dari alat musik (kecuali untuk beberapa jenis pipe organ). Kick drum, bahkan bass guitar pun tidak memiliki frekuensi di range tersebut (nada terendah dari senar bass guitar memiliki frekuensi 41 hz). Dengan demikian pada banyak kasus, range frekuensi 20-40 hz dipangkas habis menggunakan HPF (high pass filter) atau low cuts filter.
Range frequency sub bass / low bass umumnya diatur dengan equalizer untuk memberikan “power” kedalam sebuah instrument ataupun keseluruhan lagu. Range frekuensi tersebut tidak akan terdengar jelas ketika anda mendengarkan lagu pada level volume yang pelan ataupun mendengarkan lagu menggunakan speaker kecil. Dengan demikian, agar anda dapat mengatur range frekuensi sub bass / low bass dengan benar, maka anda harus mengatur equalizer sambil mendengarkannya pada level volume yang keras, kemudian mencobanya pada level volume yang dipelankan. Sebaiknya anda juga mendengarkannya pada speaker stereo system yang besar maupun kecil sebagai perbandingan.
80 Hz – 250 Hz : bass range frequency
Mengatur equalizer pada range frekuensi bass yang berkisar antara 80-250 hz dengan pengaturan equalizer yang umumnya dipusatkan pada frequency sekitar 100 hz atau 200 hz, akan mempengaruhi “ketebalan” dari sebuah instrument ataupun sebuah lagu .Pada track guitar dan bass guitar, dinaikkannya gain di sekitar frekuensi 100 hz biasanya akan menambah suara terdengar lebih “bulat”. Namun anda harus berhati-hati karena jika anda memberikannya secara berlebihan akan membuat suara guitar ataupun bass guitar terdengar “berdentum”.
Pada beberapa kasus, gain di sekitar frekuensi 100 hz pada track guitar bahkan diturunkan untuk membuat suara guitar tersebut terpisah dari suara bass guitar, dan mengurangi suara dentuman dari track tersebut. Namun konsekuensinya adalah not - not yang dimainkan pada range frekuensi tersebut menjadi terdengar samar. Biasanya, untuk membuat not – not tersebut kembali terdengar jelas, anda perlu menambahkan sedikit gain pada frekuensi disekitar 200 hz.
Pada track vocal, frekuensi di sekitar 200 hz menentukan keutuhan dari suara vocal yang direkam. Namun frekuensi di range ini seringkali dipotong agar suara vocal terdengar terpisah dari instrument-instrument lain. Kecuali jika anda telah mengatur equalizer dan menaikkan gain di frekuensi high pada track vocal dan membuat suaranya terdengar tipis, dinaikkannya gain di sekitar frekuensi 200 hz biasanya akan mengembalikan ketebalan suara vocal tersebut.
250 Hz – 500 Hz : lower mid range frequency
Mengatur equalizer pada frekuensi di sekitar 250 – 500 hz dapat memberikan aksen pada ambience di studio rekaman anda serta menambahkan kejernihan pada suara bass dan instrument string yang bernada rendah seperti cello, ataupun nada rendah dari piano dan organ.
Penambahan gain yang berlebihan di range frekuensi ini dapat membuat kick drum dan tom terdengar seperti terbuat dari kardus atau karton, sehingga untuk track – track tersebut serta track cymbal frekuensi lower mid biasanya dipangkas habis.
Pada umumnya, pengaturan equalizer di low mid range dapat dilakukan di frekuensi apa saja di sekitar 250 – 500 hz namun lebih sering dipusatkan disekitar frekuensi 300 dan 400 hz. Bagian terendah dari range frekuensi lower mid ( 250 hz – 350 hz ) disebut juga dengan range frekuensi upper bass yang biasa dinaikkan pada track vocal terutama vocal wanita untuk membuat suaranya terdengar lebih tebal.
500 Hz – 2 kHz : mid range frequency
Mengatur equalizer di mid range sering di lakukan untuk membuat suara instrument terompet ataupun yang berkarakter hampir sama terdengar jelas (biasanya sekitar 500 hz sampai 1 khz), atau untuk membuat efek suara telephone. Penambahan gain di mid range juga dapat menambah attack dari track bass guitar (biasanya di 800 hz dan 1,5 khz). Sama halnya dengan nada - nada rendah dari track rhythm guitar yang juga dapat terdengar lebih memiliki attack jika gain di frequency 1,5 khz dinaikkan.
Untuk instrument guitar, piano dan vocal, gain dari mid range frequency ini lebih sering di turunkan. Menurunkan gain di frequency 500 – 800 hz untuk track gitar akustik dapat membuatnya terdengar lebih jernih, sementara menurunkan gain di frequency 800 hz pada track vocal dapat menurunkan suara sengau serta membuatnya terdengar lebih “bulat” dan jelas.
Untuk track snare drum, penurunan gain di frequency 800 hz dapat menghilangkan kesan suara kaleng.
2 kHz – 4 kHz : upper mid range frequency
Range frequency ini menentukan efek attack dari rhythm instrument juga percussive instrument. Pengaturan equalizer dapat diaplikasikan di frekuensi mana saja di range ini, namun biasanya dipusatkan sekitar frequency 3 kHz.
Pada kick drum, menaikkan gain di frequency 2,5 kHz dapat memberikan attack pukulan dengan karakter felt beater, sementara 4 kHz memberikan karakter hardwood. Frekuensi – frekuensi ini dapat pula memberikan attack lebih jelas pada tom dan snare.
Track guitar pun seringkali diberikan sedikit attack dan pemisahan suara dengan cara mengatur equalizer di range ini. Sementara untuk track vocal, sedikit boosting ( sekitar 1 dB – 3 dB) di mid range akan membuat vocal tersebut terdengar lebih menonjol. Namun menambahkan gain terlalu berlebihan dapat membuat syllables dari vocal sulit untuk di reduksi dan membuatnya tidak enak didengar. Pada track background vocal, umumnya mid range frequency di turunkan agar terdengar lebih “transparan“.
4 kHz – 6 kHz : presence range frequency
Mengatur equalizer pada frequency di range ini dapat membuat track vocal ataupun instrument melodi lainnya terdengar lebih dekat dan lebih jelas. Namun jika berlebihan dapat membuat suaranya terdengar kasar. Pengaturan equalizer di range ini umumnya dipusatkan disekitar frequency 5 kHz.
6 kHz – 20 kHz : treble range frequency
Pada dasarnya, range treble frequency ini menentukan kejernihan dari instrument. Pengaturan equalizer di range ini biasanya dipusatkan di sekitar frequency 7 kHz, 10 kHz dan 15 kHz. Suara “S” pada vocal biasanya memiliki frequency sekitar 7 kHz, membuat frequency tersebut biasanya diturunkan. Namun anda harus hati-hati pada saat menurunkannya karena dapat membuat vocal terdengar “tumpul”. Breath sound dari track vocal biasanya terdengar di frequency 15 kHz keatas. Pada garis besarnya mengatur equalizer untuk track vocal adalah menghilangkan aksen “S” yang terlalu kasar dan memberikan breath sound yang berkualitas.
Frequency 7 kHz juga merupakan “metallic attack” dari frekuensi drum, sementara 15 kHz merupakan desisan bagi track cymbals. Ketika mengatur equalizer secara keseluruhan, frequency 10 kHz digunakan sebagai penambah level kejernihan secara umum.

https://SetinganEqualizer.com

Pengertian Sound System


Pertanyaan yang paling umum yang saya dapatkan diminta oleh penyanyi profesional, bagaimana caranya mengatur soundsystem untuk mencapai suara yang baik, ketika saya mendengar seorang penyanyi dengan suara yang baik dan trek juga dihasilkan memiliki kinerja baik pula, hancur suaranya yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang cara mengatur system suara, sangat disayangkan ketika saya mendengar penyanyi yang tidak pernah repot-repot mempelajari cara bernyanyi tetapi mencoba untuk bergantung pada peralatan dan sound engineer,padahal telah banyak diadakan kursus untuk meringankan stres dan mengajarkan penyanyi bagaimana cara untuk mencapai suara terbaik mereka, beberapa langkah mudah untuk menyiapkan dan mendapatkan suara terbaik dari sound system anda.anda harus belajar menyanyi dengan benar dalam rangka untuk mendapatkan kualitas terbaik dan proyeksi dari suara Anda tanpa menimbulkan kerusakan, sehingga Anda terlihat sperti penyanyi profesional dengan mencoba untuk berbicara dengan penonton dan berinteraksi dengan mereka sehingga Anda memberikan performance terbaik Anda dan perlu mengetahui cara mengatur PA sistem dan menjadi sound engineer sendiri dan bahkan jika Anda akan bekerja di tempat di mana Anda memiliki kemewahan dari sebuah sound engineer profesional, itu akan menguntungkan Anda untuk mengetahui dasar-dasar bagaimana untuk mengatur system.
sekarang saatnya untuk diatur untuk pertunjukan dan untuk tujuan penjelasan ini saya akan menggunakan peralatan sebagai berikut:
1. Soundcraft spirit 600.
2.speaker FOH Electrovoice 200sx
3. Shure SM58 microphone
4. ipod apel (untuk bermain backing track)
5. PEAVEY monitor
6 . satu set stands mic
7. cables Speakers
Stand mic harus ditempatkan di depan area atau di kedua ujung panggung dan ketika speaker dipasang harus pada ketinggian 2ft di atas ketinggian kepala audience. speaker tidak selalu harus berada dalam font speaker karena hal ini dapat menyebabkan masalah dengan feedback.Feedback terjadi bila ada loop audio yang dihasilkan antara mikrofon dan speaker, yang disebabkan oleh mikrofon menangkap suara dari speaker dan bermain kembali melalui system.Feedback terdengar seperti jeritan bernada tinggi yang tidak menyenangkan untuk didengarkan dan merupakan kontribusi terbesar dari rusaknya speaker .
Mixer
gunakanlah mixer berkualitas supaya suara yg dihasilkan berkualitas, semua suara dari instrumen, mikrofon dan pemutar audio terhubung dan dicampur dengan pemerataan (EQ), efek dan volume sebelum pergi ke amplifier dan speaker
Bagian dalam mixer
(1)Input channel
terdiri dari input balance (tiga pin XLR type) adalah untuk mikrofon dan (1 / 4 inci jack) unbalance adalah untuk kontrol instruments.
(2)Trim control/gain
memungkinkan Anda untuk menurunkan dan menaikan signal untuk setiap saluran. Sebagai instrumen yang berbeda dan mikrofon memiliki tingkat output yang berbeda adalah penting untuk memangkas setiap saluran untuk mendapatkan tingkat volume yang terbaik tanpa fader distortion.
(3) Volume chanel/fader
memungkinkan Anda untuk menyeimbangkan volume dari masing-masing Channel.
(4) EQ (equalizer)
kita dapat menambahkan low ,mid atau Hi untuk input masing-masing dan memotongnya.
(5)Reverb/effec
memungkinkan Anda untuk menambahkan efek seperti reverb atau menunda untuk menyalurkan untuk membuat suara mikrofon spacious lebih ”harus dicatat bahwa menambahkan reverb secara berlebihan ke mikrofon akan membuat suara lebih jauh dan tidak wajar..
(6)Master control
memungkinkan Anda untuk mengatur volume keseluruhan dari system.
(7)Master efek
untuk mengatur berapa banyak efek akan dikirim ke output
(8)Master outputs
harus memiliki speaker ditempatkan dengan benar dan mixer mudah dicapai dari meja area , pencampuran harus ditetapkan datar (fader volume yang semua dan kontrol memangkas nol, EQ dan pan kontrol terpusat). Anda harus memiliki trek pemutar terhubung ke dua saluran (misalnya 1 dan 2) dan mikrofon Anda ke saluran lain (misalnya 3) Putar salah satu trek Anda (sebaiknya lagu ceria yang kuat) dan muncul trim untuk dua saluran sampai lampu memimpin pada baca meteran tepat di bawah 0db.lalu gilirannya volume master sampai tanda 0dB dan kemudian mengubah volume saluran sampai level nyaman di depan speaker untuk mendengar suara dengan baik dan mendengarkan track.anda mendengarkan kejelasan dan berapa banyak bass atau treble yang prominent.Go kembali ke meja dan menambahkan 3dB EQ tinggi untuk kedua saluran dan kemudian kembali di depan speaker dan mendengarkan. Jika suara terlalu tipis gulir ke atas dan ke bawah dan lakukan hal yang sama Dengan EQ rendah bertujuan untuk menyeimbangkan suara yang baik dan jelas dan memiliki suara bass yang baik. pan LR saluran 1 sepenuhnya ke kiri dan saluran 2 sepenuhnya ke kanan. Anda sekarang harus memiliki suara stereo yang berasal dari dukungan Switch trek off dan sekarang ikuti langkah-langkah yang sama untuk saluran mikrofon (pan harus dalam posisi tengah) Hati-hati ketika posisi di depan speaker Bahwa Anda tidak menemukan feedback.lalu memutar lagu dan bernyanyi sambil menyesuaikan volume saluran mikrofon untuk mencocokkan suara track.suara vocal harus lebih keras dari trek dan jika tidak menonjol dari trek Anda dapat mengangkat mid control.Set frekuensi menyapu pertengahan pada ketiga saluran untuk 4kHz.On saluran mikrofon meningkatkan ini dengan tombol dB dengan 1 untuk 3dB dan mengurangi 1 sampai 3dB dari backing track saluran tersebut. Hal ini seharusnya membuat suara Anda lebih menonjol tanpa perlu meningkatkan volume.Stop trek dan menambahkan beberapa reverb atau menunda ke channel.It mikrofon ‘penting untuk dicatat bahwa jika Anda menambahkan efek terlalu banyak mikrofon Anda akan terdengar lebih jauh dan tidak wajar. Anda harus memutuskan untuk menggunakan mixer terpisah dan kemudian penguat Ini adalah kasus sederhana mengambil mengarah dari output dari mixer ke input penguat dan menghubungkan pembicara mengarah pada output dari penguat . Saya akan menyarankan bahwa daya dari penguat adalah lebih besar dari power rating, alasan ini adalah untuk meninggalkan beberapa ruang kepala dalam penguat sehingga mengurangi risiko overdriving dan mengirimkan sinyal terdistorsi ke speaker. 

https://PengertianSoundSystem .com